Rabu, 04 Maret 2015

Bermula dari Mimpi


(dari kanan ke kiri): Ustadz Irsyad Syafar, Nur Novrariani, Idsabella, Dola Adriana, Rabi'ah Adwiyah,Radhiatul Fitri, Welly Putri Akmadelita, Yolanda @House Of Raminten, Kotabaru, DI Yogyakarta

Alhamdulillah, dipertemukan kembali dengan masyaikh Ar-Risalah, Ustadz Irsyad Syafar. Dan dengan begitu Inarah(Ikatan Alumni Ar-Risalah) chapter jogja bisa kumpul (hampir) lengkap.
Rasanya.... Unbelievable banget bisa ketemu ustadz Irsyad di tanah jogja. Ada untungnya juga ustadz jadi anggota DPRD yaa... :D
Oiya, ustadz ke Jogja bukan dalam rangka nemuin kita anak-anaknya. Tapi dalam rangka tugas komisi V DPRD Prov. Sumatera Barat untuk mempelajari perda tentang disabilitas.
Walaupun temu kangennya di House of Raminten. Yaaaa overall... Hampir dua jam ngobrol gak kerasa juga yaa.. :’)
Begitu menghampiri meja, sudah menanti Fitri, Yolan dan ustadz Irsyad... Hehe melihat ustadz yang masih dengan karismanya... Aaaaa..... Unbelievable and unpredictable...
(kata Welly, Ustadz gemukan yaaa.... XD)
Denger cerita ustadz lagi..
“Ustadz bertemu kalian untuk memastikan kalian masih ‘on the track’ atau enggak..”
“datanglah ke Ar-Risalah, ntar kalo gak ada tempat, ke rumah ustadz aja.. Rumah ustadz udah sepi, 4 orang udah di asrama” (Wow, baru 4 tahun lulus dari Ar-Risalah.. Udah 4 aja anak ustadz yang tidak berlabel SD. Padahal dulu masih ke asrama buat main... -,-)
*begitu cepat waktu berlalu*
“sekarang Ar-Risalah sudah membangun TK, open house kemarin udah dipaparkan akan membangun SD,Gor Putri, kolam renang dll” (udah enam setengah hektar luas wilayah Ar-Risalah sekarang” (subhanallaaaaahh... Baru juga 4 tahun gak main-main ke Ar-Risalah)
“dulu, saat open house peresmian pembangunan MA Ar-Risalah, ustadz ustadzah bermimpi saja, kita buka kelas agama biar anak-anak kita ke timur tengah, kelas IPA biar anak-anak kita ke Eropa ke universitas universitas terkenal di Indonesiaa... Dulu hanya mimpi saja.. Setelah 2 generasi  yang lulus perlahan mimpi mimpi itu menjadi nyata”
(and Now, we are surely spread entire world... Memang baru 5 angkatan yang lulus tapi alumninya udah dimana mana...medan, padang, jambi, lampung, palembang, bengkulu, jakarta, bogor, bandung,semarang, jogja, surabaya, bali, malaysia, mesir, madinah, jepang, jerman. Subhanallah.. Allah memang tidak pernah menyia-nyiakan hambaNya yang selalu berharap padaNya”
“mimpi-mimpi kita hari ini adalah kenyataan esok hari”
Aahhh... Percikan percikan cerita itu bener-bener membawa pada memori masa lampau 5 atau 6 tahun silam.. Saat kita hanya tau lingkungan Ar-Risalah dan menanti nanti cerita tentang perkembangan dunia luar... Berkerubung saat membaca koran. Dan sekarang berbalik.. Kita yang ingin mendengar cerita-cerita Ar-Risalah.
Mungkin saat ini dan saat itu kita tak mensyukuri apa-apa yang telah ditakdirkan Allah pada kita
Hari kemarin..
Hari Ini...
Hari esok..
Kapanpun itu tetaplah bermimpi untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan mensyukuri setiap detak nafas dan langkah perjalan yang Allah takdirkan.
Bismillah..
Wal hamdulillah
Jazakallah Khairan Ustadz yang udah menyempatkan waktunya untuk ketemu kita-kita, semoga dilain kesempatan dipertemukan kembali.
Btw, semoga gak cuman momen-momen ginian yang bisa ngumpulin alumni putri se-jogja yaaa...
See you in other session girlss...
Yani (mahasiswi ‘magang’ 1 semester peternakan UGM), Dola (Psikologi UGM’13), Fitri (psikologi UAD ‘11), Welly (Psikologi UIN ‘11), Yolan (D3 Manajemen ‘13), Abel (Pertanian UGM ‘14), Awi (Teknik Fisika UGM ‘11).. Missing people Inur (perbankan Syarri’ah UMY 14), Falihah (Kebidanan ‘14)

Asma Amanina, 4 Maret 2015

Selasa, 26 Agustus 2014

MET MILAD CHA..

26 Agustus 2014
21 tahun kini usianya..
ia menjadi gadis yang sangat disenangi orang-orang di sekelilingnya (tapi, gue gak ngerti ni orang pilih-pilih banget kalo masalah 'tempat tidur'nya)
21 tahun kini usianya..
ia memasuki tahun-tahun ketika tak sedikit yang bertanya "kapan lulus?" "sibuk apa sekarang?" bahkan sampai pada pertanyaan "kapan menikah?" (khayalan gue butek banget ya...)
21 tahun kini usianya..
ia memasuki tahap-tahap dimana kuliah akan menyenangkan (mudah-mudahan), dimana bidang yang ia pilih setelah 1 tahun uji coba gagal adalah yang akan dia minati ntah sampai kapan.
ia akan menjalani fase-fase hidup yang lebih dewasa yang gak ada namanya melakukan hal bodoh yang pernah ia lakukan kala itu XD
21 tahun kini usianya..
bagiku memasuki angka dua satu adalah hal-hal sulit yang pernah aku jalani (ini versi lebay banget), dimana kdua satu bahkan dua puluh adalah fase dimana orang disebut berkepala dua. (bayangkan nah... kepalanya udah dihitung dua coy...)
21 tahun kini usianya...
ia menjadi orang yang memikat siapapun yang bergaul dengannya. tak berbatas gender, semua orang menyukai cara bicaranya, gaya bergaulnya, selera humornya, selera fashionnya, dan cara ia memperlakukan teman-teman terdekatnya
21 tahun usianya..
semoga kau tak lagi menjadi gadis yang berharap pamrih dari orang tuamu yang dengan itu kau semangat mengupgrade nilai-nilaimu..
ingat Cha.. sudah 21.. :p
barakallah fii miladiki Raisa Karima..
terima kasih atas ikatan persaudaraan yang telah terbina selama 9 tahun (omaigat... pertemanan kita sudah terjalin lama coy...)
semoga semakin cantik... semakin menarik hati.. semakin shalihah.. semakin dekat kepada Allah..
semoga menjadi insan-insan yang lebih bermanfaat untuk orang lain, menjadi qurrata a'yun bagi Abi, Bunda, Bang Bi, Syauqi, Hilya, Syafiq, Haziq dan Athiya..
semoga tetap menjadi boss (ini julukan anak GS buat elu, kalo masih inget) yang baik buat genk kita..
semoga dengan bertambahnya umur lu gak mengurangi intensitas lu main ke Jogja buat ketemu gue, gak menghambat acara kumpul-kumpul anak GS.
semoga dengan bertambahnya umur lu gak mengurangi minat lu untuk mendenger cerita-cerita sampah gue..
semoga kita yang sama-sama udah 21 ini, bisa semangat dan jalan-jalan ke Bandung libur semester besok ya Cong...
ichaaa.... maaaf...
awalnya gue pengen ngasih lu video yang udah gue rekam di taman pasca sarjana UGM beberapa bulan yang lalu, gue pake baju warna pastel waktu itu,,, tapi pagi-pagi gue obrak-abrik directory gue udah gak ada, gue gak tau dimana gue simpen tu video..
pengen nangis rasanya gue tadi pagi...
alhasil, gue minta tolong seseorang buat rekaman.. ntar gue kirim ke instagram lu yaa...
huaaa... masih gak rela dengan video yang udah gue buat..
anyway, sangeul cukkae...
salamaik bakurang umua yo cong...

regard
gue yang selalu siap menerima cerita sampah lu

Sabtu, 15 Maret 2014

Abii...

Seorang pemuda duduk di hadapan laptopnya. Login facebook.
Pertama kali yang dia cek adalah inbox.
Hari ini terlihat sesuatu yang tidak dia perdulikan selama ini.
Bagian ‘OTHER’ di inboxnya. Ada dua pesan. Pesan pertama,
spam. Pesan kedua, dia membukanya. Ternyata pesan 3 bulan
yang lalu.
Dia baca isinya:
“Salam. Ini kali pertama abah mencoba menggunakan
facebook. Abah coba tambah kamu sebagai teman tapi tidak
bisa. Abah juga tidak terlalu paham benda ini.
Abah coba kirim pesan ini kepada kamu. Maaf, abah tidak
pandai mengetik. Ini pun kawan abah yang mengajarkan.
Ingatkah saat pertama kali kamu punya HP? Saat itu kamu
kelas 4 MI. Abah kasian semua anak-anak sekarang punya HP.
Jadi, abah hadiahkan pada kamu satu. Dengan harapan kamu
akan telpon abah kalau kamu mau cerita tentang masalah
asrama, sekolah atau apa-apa saja. Tapi, kamu hanya telpon
abah seminggu sekali. Tanya tentang uang makan dan jajan.
Abah berpikir juga, isi ulang pulsa 100 ribu tapi telpon abah
tidak sampai 5 menit. Sudah habiskah pulsanya?
Saat kamu kecil dulu, abah masih ingat pertama kali kamu bisa
ngomong. Kamu asyik panggil, ‘Abah, abah, abah’. Abah
bahagia sekali anak lelaki abah panggil abah. Panggil Umi.
Abah senang bisa berbicara dengan kamu walaupun kamu
mungkin tidak ingat dan tidak paham apa yang abah ucapkan
di umur kamu 4 atau 5 tahun.
Tapi, percayalah. Abah dan Umi bicara dengan kamu banyak
sekali. Kamulah penghibur kami di saat kami
berduka. Walaupun hanya dengan gelak tawamu.
Saat kamu masuk MI. Abah ingat kamu selalu bercerita dengan
abah ketika membonceng motor dengan abah setiap pergi dan
pulang sekolah. Banyak yang kamu ceritakan pada abah.
Tentang ibu guru, sekolah, teman-teman. Abah jadi makin
bersemangat bekerja keras mencari uang untuk biaya kamu ke
sekolah. Sebab kamu lucu sekali. Menyenangkan. Ayah mana
yang tidak gembira kalau anaknya suka ke sekolah untuk
belajar.
Ketika kamu masuk MTs. Kamu mulai punya kawan-kawan
baru. Kamu pulang dari sekolah, kamu langsung masuk kamar.
Kamu keluar pas waktu makan saja. Kamu keluar rumah
dengan kawan-kawanmu. Kamu mulai jarang bercerita dengan
abah.
Kamu pandai. Akhirnya masuk asrama di Aliyah. Di asrama,
jarak antara kita makin jauh. Kamu mencari kami saat perlu.
Kamu biarkan kami saat tidak perlu.
Abah tahu, naluri remaja. Abah pun pernah muda. Akhirnya,
abah tahu kalau ternyata kamu menyukai seorang gadis.
Ketika masuk kuliah, sikap kamu sama saja dengan ketika di
Aliyah. Jarang hubungi kami. Sewaktu pulang liburan, kamu
sibuk dengan HP kamu, dengan laptop kamu, dengan internet
kamu, dengan dunia kamu.
Abah bertanya-tanya sendiri dalam hati. Adakah kawan
istimewa itu lebih penting dari Abah dan Umi? Adakah Abah
dan Umi cuma diperlukan saat kamu mau nikah saja sebagai
pemberi restu? Adakah kami ibarat tabungan kamu saja?
Akhirnya, kamu jarang berbicara dengan abah lagi. Kalau pun
bicara, dengan jari-jemari. Berjumpa tapi tak berkata-kata.
Berbicara tapi seperti tak bersuara. Bertegur cuma waktu hari
raya. Tanya sepatah kata, dijawab sepatah kata. Ditegur, kamu
buang muka. Dimarahi, kamu tidak pulang liburan lagi.
Malam ini, abah sebenarnya rindu sekali pada kamu. Bukan
mau marah atau mengungkit-ungkit masa lalu. Cuma abah
sudah terlalu tua. Abah sudah di penghujung usia 60 an.
Kekuatan abah tidak sekuat dulu lagi.
Abah tidak minta banyak… Kadang-kadang, abah cuma mau
kamu berada di sisi abah. Berbicara tentang hidup kamu.
Meluapkan apa saja yang terpendam dalam hati kamu.
Menangis pada abah. Mengadu pada abah. Bercerita pada
abah seperti saat kamu keci dulu. Apapun.
Maafkan abah atas curhat abah ini. Jagalah solat. Jagalah
hati. Jagalah iman. Mungkin kamu tidak punya waktu berbicara
dengan abah. Namun, jangan sampai kamu tidak punya waktu
berbicara dengan Allah. Jangan letakkan cinta di hati pada
seseorang melebihi cinta kepada Allah.
Mungkin kamu mengabaikan abah. Namun jangan kamu
mengabaikan Allah.
Maafkan abah atas segalanya.”
Pemuda meneteskan air mata. Dalam hati perih tidak terkira.
Bagaimana tidak, tulisan ayahandanya itu dibaca setelah 3
bulan beliau pergi untuk selama-lamanya.

Dapet kisah beginian yg disebar kemana-mana via whatsapp.. benar memang teknologi mendekatkan yg jauh tetapi menjauhkan yang dekat.
Abiiiii.... awi gak pengen jadi anak seperti itu..
Abii... mungkin awi terlalu kaku sama abii, tapi di lubuk hati awi terdalam awi sayang abi..
Awi bangga punya abi yang sangat mendedikasikan diri untuk ummat.
Doakan awi bisa bermanfaat juga untuk orang lain suatu saat nantii...
Awi sayang abi karna Allah, sekarang dan selamanyaa...

Senin, 30 Desember 2013

buat Ummi....

Wanita yang (selamanya) kan kusayangi dan kucintai
Dia terlahir di sebuah kampung yang (sepertinya) jauh dari kota, hidupnya sederhana (yang pasti tak senyaman hidupku sekarang). Dekat dengan hijaunya sawah yang menghampar luas, riak sungai yang senantiasa mengalirkan air jernih. Jauh dari hiruk pikuk kota yang penat dan bising.
Dia wanita yang dilahirkan dan dibesarkan oleh seorang ibu yang sangat luar biasa, melahirkan 2 jundi dan 1 jundiyah yang subhanallah sangat hebat. Seorang ibu yang tidak pernah menyerah dengan keadaan dirinya, seorang ibu yang sedari kecil ditinggal oleh orang tuanya. Seorang ibu yang selalu berjuang melengkapi persil-persil ilmu pengetahuan. Seorang ibu yang selalu punya semangat untuk menjadikan anak-anak lebih baik dari dirinya.
Dia wanita yang dibesarkan juga oleh seorang bapak yang tak pernah mengeluh akan nasib yang (hampir) tak selalu berpihak pada mereka. Seorang bapak yang rela mengorbankan kehidupannya yang cukup untuk mengarungi bahtera hidup dengan penuh perjuangan. Seorang bapak yang selalu memegang tangan anaknya tetap kuat mengarungi kehidupan ini.
Wanita itu menjalani masa muda dengan tidak mudah, wanita yang begitu gigih memperjuangkan pendidikan yang ia tempuh. Walau aral melintang badai menghadang tak pernah menyurutkan langkahnya untuk tetap bersekolah. Walau harus bersepeda berkilo-kilo meter demi mendapatkan angkutan umum yang akan mengantarkan ke kampus yang lagi-lagi (menurutku) tak bonafit, tak keren. Tapi lagi-lagi pendidikan berkualitas tak hanya dimiliki oleh kampus yang keren dan tenar. Wanita itu rela berjualan kangkung dan menjahit untuk membayar biaya kuliahnya. Ya.. dia tak bisa mengandalkannya orang tuanya, karna situasi akan semakin runyam.
Dia adalah wanita yang akhirnya dipertemukan dengan seorang pria yang tak kalah keren. Memang, wanita keren hanya untuk laki-laki keren. Mereka akhirnya menjejaki fase baru dalam kehidupan mereka, padahal pria yang ia nikahi beum mempunyai pekerjaan mapan, kulliahnyapun baru saja dimulai, wanita itu bahkan harus merelakan sebuah gelang hadiah dari sang mertua karna harus mengambil ijazah yang membutuhkan biaya.
Dia adalah wanita yang sudah berpuluh tahun mengabdikan hidup untuk kampungnya, tak peduli dianggap atau tidak oleh masyarakat sekitarnya. Bahkan ia adalah seorang pionir yang menginisiasi adalah SMA di kampung itu mengingat sangat rendahnya kemauan belajar dari anak-anak muda disana. Rela tidak bergaji, rela menempuh berjam-jam perjalanan dengan sepeda motor ke ibu kota kabupaten demi mengurus seluruh admintrasi sekolah. Demi legalnya sekolah yang ia rintis, rela dengan gaji 9o ribu dalam 1 bulan agar pemuda-pemudi di kampung itu tidak putus sekolah.
Dia adalah wanita yang senantiasa tetap istiqomah membina ibu-ibu di lingkungan sekitar, ia yang selalu menyediakan waktu agar bermanfaat untuk lingkungan sekitarnya, yang tak sungkan mengulurkan tangannya untuk membantu orangorang sekitarnya, senantiasa memotivasi ibu-ibu di sekitarnya untuk tidak mudah menyerah untuk menyekolahkan anak-anak mereka.
Wanita itu ialah ummi..
Ummi yang telah melahirkanku dan 5 saudaraku, seorang ibu yang telah mengorbankan rahimnya selama 9 bulan untuk kami. Seorang ibu yang tiada duanya di dunia ini. Seorang ibu yang telah membesarkan kami satu persatu dengan caranya sendiri.
Ummi, adalah sosok yang selalu dirindukan oleh anak-anaknya. Yang selalu cerewet kalau kalau anaknya belum makan sebelum pergi ke sekolah, seorang ibu yang tegas dalam meluruskan apa-apa yang kami anggap benar padahal tidak dari sebuah ajaran islam.
Seorang ibu yang selalu bangun lebih awal untuk bermunajat pada Allah, agar anak-anakNya tetap berada dalam lindunganNya. Seorang ibu yang punya prinsip untuk mempesantrenkan anakanaknya sejak masuk usia SMP. Seorang ibu yang selalu melarang anak-anaknya untuk tidak berada di kampung saat usia sudah menginjak SMP karna kapung itu tak lagi kondusif untuk pembentukan kepribadian.
Ummi adalah sosok yang tak pernah mau membebani pikiran anak-anaknya dengan kondisi ekonomi di rumah, sosok yang (hampir) selalu menolak jika saja anaknya kepikiran dengan keuangan keluarga.
Ummi adalah sosok yang mengnspirasiku selamanya. Ummi adalah sosok ibu, sosok istri, sosok wanita yang sempurna di mataku.
Ummi…….
Sayang ummi karena Allah..
Karena ummi punya caranya sendiri dalam mendidik anak-anaknya…
Ummii….
Ajari awi menjadi sosok wanita seperti ummi…
Yang tetap tegar walau badai menghadang..
Yang tetap tanggung walau aral melintang..
Semoga kita berkumpul di syurgaNya kelak.. syurga firdaus insyaAllah… J
~~ happy mother’s day~ 

Jumat, 06 Desember 2013

random post

_Sakinah Bersamamu_
(sebuah cerpen dalam buku yang juga berjudul sakinah bersamamu karya Asma Nadia)
Pertama kali liat buku ini, agak gimana gitu ama judulnya, tapi pas buka bukunya dan ulasan-ulasannya dalam bentuk cerpen langsung tertarik membacanya, hahaha… noted:Cuma tertarik baca ceritanya..!!!
[sedikit ulasan ceritanya]
Kenapa kita menikah, bang?
Sebab tanpamu, tak ada pernikahan bagiku.
(Cuma mau ngasih tau penggalan-penggalan cerita yang menurutku menarik)
……..
Dan seperti yang sudah-sudah setiap kali memandangmu tertidur, baying-bayang kebersamaan kita begitu saja terpampang di pelupuk. Berkejaran. Takdir telah mempertemukan kita, dua orang yang tidak sempurna, hingga sampai ke pelaminan. Ketika aku mulai cemas, tak aka nada lelaki yang berani mendekati, apalagi melamarku.
“makanya jangan pasng muka galak, Ri!” celetuk Ratasya, sahabat baikku yang sudah seperti saudara kandung itu, dengan mimic lucu.
Galak? Iyakah?
Tapi Mitha yang dua puluh kali lebih sangar dariku, sudah setahun lalu dipinang lelaki jawa, dari fakultas lain.
“mungkin kau terlalu pemilih!”
Kali ini suara Mitha. Apakah dia mendengar kalimat pendek yang terbersit di batinku?
Pemilih?
Pikiran itu nyaris membuatku tergelak-gelak. Imajinasiku membayangkan adegan puluhan tangan sibuk memilih pakaian yang sedang sale di department store. Allah… bagaimana bisa membuat pilihan ketika tak satupun laki-laki lain terlihat mengambil ancang-ancang mendekatiku?
Sementara Raja, satu-satunya makhluk lawan jenis yang dekat denganku sejak di bangku pertama kuliah member jawaban lain. Simple aja, “kau terlalu perkasa bagi laki-laki, Ri” (langsung terhenyak pas di bagian ini)
Ah. Jika saja dosen sosiologi kami tak keburu dating, pasti sudah kudebat dia untuk mendefinisikan arti kata ‘perkasa’ disini. Apakah perkasa itu karena aku mengendarai motor gede ke kampus? Apakah kata itu dilekatkan karena kebiasaanku mengenakan celana panjang dengan banyak saku? Atau karena cara bicaraku yang terus terang dan tidak kemayu? Tau… karena aku tidak merasa perlu meminta tolong apapun kepada teman-teman pria di kampus, untuk hal-hal yang masih bisa kukerjakan?
Galak, pemilih, perkasa. Tiga kata itu membuatku mereka-reka akhir kisah cintaku yang tak pernah dimulai. Padahal kata irang-orang wajahku tidak jelek. Behkan menurut Raja, aku jauh lebih menarik dari pada tikus-tikus yang terjebak lem di kamar kos-nya. Bah!
Syukurlah Allah maha baik padaku. Beberpa bulan menjelang wisuda, Dia mempertemukan aku denganmu, lebih tepatnya menurunkanmu dari metro mini yang menyerempet motor dan dengan sukses membuatku oleng dan terjatuh.
………
Awal ceritanya mengingatkanku akan diriku sendiri, seakan merasa satu nasib dengantokoh bernama Ri itu, bahkan sampai sekarang masih sering dijuluki ‘tangguh’ karena (katanya) cara jalanku terlihat seperti perkasa, cara bawa motornya juga perkasa dan suka ngebut (plis… ini ga bisa dikatakan indicator ‘tangguh’). Lagian, apa salahnya sih jadi cewek tangguh? (ah! Pertanyaan retoris untuk berkilah).
Dan mungkin hamper sama dengan cewek-cewek lain yang karakternya seperti aku, senasib gitu deh.. wajah jelek.. menurutku enggak.. toh hokum alam juga berkata bahwa kecantikan itu sifatnya relative… *kalo ini ngeles*
Sosok Ri tadi memang akhirnya menikah dengan Zaqi, laki-laki yang tak sengaja menyerempet itu. Lalu dengan lika-liku yang ada.. sampai akhirnya mereka terpisah oleh maut. Dan yang (juga) berkesan quote Asma Nadia di penggal pertama ulasannya.

Apakah yang terpenting dalam pernikahan?
Menikah dengan sosok sempurna, kah?
Menjalani hari-hari berkeluarga dengan cinta yang sama yang membawa kita ke gerbang pernikahan?
Menikmati kehisupan hingga masa tua, langgeng dan selalu bahagia tanpa pernah mengalami pengkhianatan cinta?


(yang kutarik intinya: menikah itu tak semanis yang dibayangkan dan tak semudah yang diharapkan)

Jumat, 28 Juni 2013

sepotong tulisan dari masa lalu *punya orang*


Desember,2010
I’m here…
Hmm… ga terasa dah klelas tiga, di penghujung tahun, kami akan menghadapi TO UN yang pertama, yang menjadi asal dari tuntutan ujian2,  dan TO2 berikutnya.
2 tahun lebih L ahabiskan waktu di PIAR, menenmpuh jalan hidup yang curam, tajam dan penuh kerikil.. (hiperbol), menghabiskan masa remaja yang penuh warna untuk menjadi insan dewasa (yang warnanya item putih doank).
“setiap pertemuan pasti ada perpisahan” dan itu gak bisa di pungkiri. Nggakkkan ada La  temuin teman-teman yang sama persis kayak teman di PIAR. Awee yang bawel, uni Dhiela yang cuek, Vera yg ‘busuk’, Muthi yang over, ezy yg silent, rini yg spirit dan semua temen-temen yang memiliki sejuta karakter. Hidup itu indah dan hidup itu hanya sekali maka nikmatilah friend… ya walaupu terkadang kenyataan tak sesuai dengan keinginan. Tapi itulah lika-liku kehidupan, warna dalam kesedihan dan air mata dalam kebahagiaan. Tak sanggup kukatakan setiap asa yang terbayang, tak sanggup ku ungkapkan isi hati yang tak terperikan, tak sanggup ku tuliskan kata-kata yang menghujam, tak sanggup ku artikan ekspresi wajah yang tersimpan, yak sanggup ku hiraukan sorotan mata penuh pengharapan, tak sanggup ku hilangkan canda tawa dalam kenangan dan tak sanggup ku lukiskan setiap warna dalam kehidupan, kawan.
Cita-citamu adalah jalanmu, tempuhlah itu demi mata-mata pengharapan, demi hasrat yang terpendam. Syurga itu tak murah teman, butuh kesabaran, keikhlasan, ketaatan dan pengorbanan untuk membelinya. (kalo udah beli bagi2 ya).
Dah dej itu ajha, dah adzan, dah capek, dah mau penuh. Awee kalau dah di UGM jangan sombong ya, kalo merit.. undang2 aku yaa. Aku penasaran siapa sih soulmate awee?! Mudah-mudahan tahan banting ya…!!! Jadi gak papa kalau awe tonjokin terus. TAPI jadi cewek lembutan dikit napa wee?! Ku selipkan doa dalam luka, kuselipkan asa dalam kata, kuselipkan cinta dalam tawa untukmu kawan…

                                                                             By: Fadhilatul Hasnah
Abis baca itu tulisan.. terharu banget.. jadi kangen ama kamu la…
Barakallah fii miladiki yeuy… mudah-mudahan segala asa di pertemukan dengan waktu yang tepat. Ga nyangka, kamu udah ngedo’ain aku di UGM sejak lama.. thankyu.. *peluk*. Itu pesan di paragraph terakhir nusuk banget dah.. mudah-mudahan suamiku ntar bener-bener tahan banting, pelaku pencak silat, karateka, taekwondo bahkan judo.. semoga… #loh

Minggu, 14 April 2013


13 April 2013- 23.55 WIB
Ummi, Inni Uhibbuki Fillah.. <3

Tokyo Tower, sebuah film yang sangat mengharukan. Mengajarkan kita bagaimana seorang ibu amat sangat mencintai anaknya. Cerita ini memang fiksi tapi faktanya, begitulah adanya. Apapun keinginan anaknya akan diterimanya secara rasional. Satu hal yang tak akan pernah lepas, sampai kapanpun ibu kita akan tetap menganggap kita anaknya sebagai seorang anak kecil.
Merantau bukanlah hal yang mudah. Jauh dari orang tua itu yang membuat kita berat hati, especially mom.. tapi untuk menggapai sebuah asa, untuk menjemput sebuah cita taka da yang dapat kita lakukan kecuali menimba ilmu di tempat yang lebih baik.
Ummi.. Inni uhibbuki fillah..
aku tau betapa sulitnya mempunyai anak sepertiku.  Kau tau?? Aku selalu menitikkan air mata ketika dirimu melepaskan aku untuk pergi menuntut ilmu. Setiap waktu saat bis akan melaju ke kota Padang atau ketika dirimu melepas kepergianku di Polonia. Kau tau? Bahkan aku selalu menangis.
Seiiring berjalannya waktu, semakin bertambahnya umur. Ntah kenapa aku bukan makin terbiasa jauh darimu, tetapi malah ingin selalu berada di dekatmu.
Aku sadar, betapa sulitnya mempunyai anak sepertiku..
Yang aku lakukan hanyalah menengadahkan kedua tanganku agar abi dan ummi selalu memenuhi kebutuhan materiku. Aku menganggapmu hanya sebagai MESIN UANG.  Betapa bodohnya aku..
Aku sadar, taka da yang bisa kuberikan padamu.. TAK ADA.. ntah sampai kapan angan-angan ini terus menjadi khayalan yang taka da ujungnya.
Sumimasen okaasan.
Aku sadar bahwa begitu tidak bergunanya aku kepadamu. Bahkan sebuih dari jasamu tak jua bisa kubalas dengan setimpal. Dirimu selalu menceritakan inginmu padaku, tapi lagi-lagi (anakmu yang tak berguna ini) hanya menjadi pendengar setia.
Awi sayang Ummi karena Allah..
Setiap sujudmu dirimu takkan pernah alfa menyertai namaku dalam do’amu, taka da orangtua yang melupakan anaknya. Seumur hidupnya, sebejat apapun  orangnya.  Dirimu akan selalu mengasihi makhluk yang pernah berada di rahimnya, mengisap asi dari putingnya.
Maafkan aku, bahkan diriku sering melupakanmu dalam do’aku, diriku terlalu egois, sehingga untuk orang sedekatmu dengan diriku sering kuabaikan haknya.
Keinginan ummi selalu terngiang dalam benakku, setegar apapun aku tampak luar, ketika terngiang keinginan ummi yag satu itu, aku selalu menitikkan air mata.
“Awi berharap semoga saat Awi harus mengabdi pada qawwam Awi suatu saat nanti, yang melepaskan Awi adalah Abi, abi yang menjadi wali Awi ketika tiba saatnya nanti. Awi berharap Ummi menjadi orang terdekat Awi ketika Awi hamil, ketika Awi melahirkan jundi-jundi kecil Awi. Semoga Awi bisa seperti Ummi yang selalu tegar. Tak pernah cengeng apalagi mengadu.” ~my little whisper~